Sesusah Susahnya Rakyat, Tidak Pernah Menyusuhkan Pejabat di Negeri Ini.

oleh : Averos Zahidi.

Verostv.com, Pekanbaru – Ini bukan suatu pemikiran menyerah ini adalah suatu bentuk tulisan penuh romantisme dan semangat antara rakyat dan penguasa. Hidup di negeri yang kaya raya justru rakyatnya  mengalami kesulitan hidup,  untuk tetap bertahan tanpa pernah benar-benar menyusahkan  para pemimpin yang memimpin dinegeri ini.Ini juga mengambarkan bagaimana masyarakat harus terbebani dengan masalah ekonomi, sosial dan birokrasi yang jauh lebih komplek sedangkan kekuasaan berjalan dengan kenyamanan yang jauh dari kata kesulitan.

Tak terelakkan rakyat bekerja dari pagi sampai malam,  menahan lapar dan dahaga  yang menusuk sampai ke ulu hati. Menunda mimpi untuk dapat mencapai kemakmuran, harus menanggung beban hidup yang semakin berat.Kita harus mengalah, kita harus menyesuaikan diri dan kita harus bertahan.Namun ada satu kenyataan yang tak pernah luput dari perhatian sesusah susahnya rakyat, mereka tidak pernah menyusahkan para pejabat dinegeri ini. bukankah adanya suatu bangsa atau negara karena adanya rakyat. Ironis memang apabila kita melihat hubungan antara pemerintah dan rakyat.

Kehidupan sulit yang dialami bukan sekedar narasi emosional, melainkan kenyataan sosial yang nyata yang dirasakan terus menerus oleh rakyat dinegeri ini mulai dari tekanan ekonomi dimana harga kebutuhan pokok yang terus menerus naik. Mengakibatkan daya beli masyarakat turun. Bagi keluarga miskin kenaikan  harga sedikit saja sangat berpengaruh kepada kualitas hidup mereka.

Keterbatasan lapangan pekerjaan mengakibatkan terjadi pengangguran terbuka, akibat ketidak mampuan pemerintah dalam menangani jutaan orang memasukin usia kerja. Sehingga banyak krang yang akhirnya bekerja apa saja demi kelangsungan hidup. Bekerja disektor informal jadi tukang ojek, buruh harian, pedagang kaki lima dan pekerja serabutan tanpa kejelasan penghasilan.

Pendidikan dan kesehatan merupakan kebutuhan dasar, tetapi sebagian rakyat itu terasa sangat memberatkan.Meskipun berbagai program bantuan pemerintah telah tersedia, kenyataannya banyak keluarga harus berjuang keras untuk membiayai biaya sekolah anak, membeli perlengkapan sekolah dan menanggung biaya pengobatan ketika sakit.

Masyarakat menghadapi tekanan ekonomi, pengangguran, ketimpangan pendatapatan, pendidikan dan kesehatan, birokrasi yang menyulitkan dan lain sebagainya. Namun ditengah kesulitan itu  mereka tetap bekerja, tetap bertahan dan tetap berharap akan masa depan yang lebih baik.

Logika Terbalik Antara Penguasa dan Rakyat.

Sering kali terlihat kehidupan penguasa atau pejabat didunia yang berbeda, fasilitas negara tersedia, keamanan dan kesehatan terlengkapi  dan berbagai kemudahan melekat pada jabatan. Penyelewengan berbentuk pungli, korupsi, kolusi dan nepotisme sesuatu yang lazim dan membudaya tanpa tersentuh oleh apapun.

Rakyat menghitung receh untuk membiayai kehidupannya, penguasa menghitung anggaran miliaran bahkan triliunan untuk kesejahteraannya.Rakyat memikirkan bagaimana bertahan hidup dari hari kehari dengan dinamika yang dilalui, pahit dan getir sangat terasa sampai ke ubun-ubun. Penguasa memikirkan proyek pembangunan dan agenda politik untuk melanggengkan kekuasaan sampai keanak cucunya.

Kekuasaan membuat aturan yang mengikat seluruh rakyat, yang hanya menguntungkan kelurga dan koleganya sehingga satu keputusan administratif dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat dari hal yang kecil hingga hal yang besar.Rakyat hanya bisa menerima saja menyesuaikan diri atau menangung segala konsekwensinya.

Penguasa memiliki kekuasaan besar dalam megelola keuangan. Anggara yang berasal dari memajaki rakyat, sumber daya alam dan berbagai penerimaan lainnya dikelolan melalui keputusan  birokrasi dan politik. Rakyat hanya tau satu hal mereka tidak merasakan dari apa yang mereka berikan.

Pengendalian aparat dan birokrasi pada tingkatan apapun mulai dari pusat sampai kedaerah. Satu saja keputusan pejabat bisa mempengaruhi penegakan hukum, pelayanan publik hingga berbagai proses administrasi yang harus dilalui rakyat.

ketika ketidak adilan mereka rasakan mereka hanya bisa berbisik tanpa harus bersuara lantang karena ketakutan akan penguasa.Ini sering timbul dalam kombinasi pengalaman dan persepsi selama ini dirasakan dikriminalisasi dan dicari-caribkesalahan.Dan ketakutan ini bukan hanya datang dari ancaman langsung tetapi ketakutan akan dipersulit dalam urusan kehidupan,  ketakutan akan kehilangan pekerjaan, takut berhadapan dengan Aparat, takut akan suara mereka tidak akan mengubah apapun dan takut akan dikucilkan dalam kehiidupan sosial

Namun sejarah mengingatkan satu hal penting kesabaran rakyat bukanlah sesuatu tidak terbatas. Kesabaran memang bisa panjang, tetapi ia tidak pernah abadi.

Ketidak adilan terus berulang.Birokrasi yang lambat, kebijakan yang tidak menyentuh kehidupan rakyat kecil, beban ekonomi yang terasa berat, ketimpangan antara yang kaya dan miskin sangat mencolok  dan ketika keputusan dibuat tanpa mempertimbangkan kondisi masyarakat. Banyak negara mengalami perubahan sosial bukan rakyatnya tiba-tiba ingin melawan. Tetapi karena mereka terlalu lama menanggung beban yang tidak berkurang.

Ketika kesulitan hidup terus meningkat sementara harapan terhadap keadilan terasa mulai menipis kesadaran rakyat mulai menjadi kesadaran bersama.Dan pada titik itulah sejarah sering  mulai bergerak. (Az)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *