Oleh : Averos Zahidi.
Verostv.com, Pekanbaru – Ada orang-orang yang dahulu hidup dalam kesulitan, merasakan lapar, berteriak tentang keadilan, mengecam korupsi dan membela rakyat kecil. Tetapi ketika kekuasaan akhirnya berada di tangannya, sebagian justru melakukan hal yang dahulu mereka kutuk.
Dulu ia melawan keserakahan karena tidak punya apa-apa. Setelah berkuasa, justru ia diuji oleh kesempatan memiliki segalanya.
Di situlah kekuasaan menjadi cermin. Bukan kekuasaan yang mengubah seseorang, melainkan kekuasaan yang membuka watak yang selama ini tersembunyi.
Apakah manusia akan tetap berbuat baik jika ia bisa melakukan kejahatan tanpa pernah diketahui atau dihukum.
Ketika seseorang yang dahulu memperjuangkan keadilan akhirnya memperoleh kekuasaan, lalu tidak lagi merasa diawasi, apakah ia tetap menjadi orang yang sama?
Ring of Gyges adalah sebuah cerita pemikiran yang dikisahkan oleh Plato dalam Republic (Buku II), untuk menguji hakikat moralitas manusia.
Ceritanya sederhana tetapi sangat tajam,
Seorang penggembala bernama Gyges menemukan sebuah cincin yang membuat pemakainya tidak terlihat. Setelah menyadari kekuatan cincin itu, ia menggunakannya untuk memasuki istana, menggoda ratu, membunuh raja, lalu mengambil kekuasaan.
Plato seakan mengingatkan bahwa kualitas moral manusia tidak diuji ketika ia tidak memiliki kesempatan berbuat jahat. Ia diuji ketika ia memiliki kesempatan, kekuasaan, dan kemampuan untuk lolos dari pertanggungjawaban.
Karena itu, masalah terbesar sebuah bangsa bukan hanya koruptor yang mencuri uang negara. Masalah yang lebih dalam adalah lahirnya manusia-manusia yang kehilangan ingatan moral setelah memperoleh kekuasaan.
Mereka lupa dari mana mereka datang. Lupa siapa yang dahulu mereka bela.Lupa bahwa jabatan itu sementara. Dan yang paling berbahaya: lupa bahwa di balik setiap angka dalam anggaran negara terdapat kehidupan manusia—anak yang membutuhkan sekolah, keluarga yang membutuhkan pangan, pasien yang membutuhkan pelayanan kesehatan, dan rakyat kecil yang menggantungkan harapan kepada negara.
Dalam konteks korupsi, penyalahgunaan jabatan dan oligarki, teori ini menunjukkan bahwa masalah terbesar bukan sekadar ada atau tidaknya hukum, melainkan apa yang dilakukan seseorang ketika kekuasaan membuatnya merasa tidak terlihat dan tidak tersentuh.
Pejabat yang tetap jujur ketika memiliki kesempatan untuk menyalahgunakan jabatan menunjukkan integritas. Sebaliknya, ketika kekuasaan digunakan untuk memperkaya diri, keluarga, kelompok, atau jaringan politik, maka “Cincin Gyges” telah menemukan bentuk modernnya. Karena itu, kualitas moral seorang penguasa bukan diuji ketika ia diawasi, tetapi ketika ia memiliki kekuasaan untuk berbuat salah dan merasa tidak akan pernah dimintai pertanggungjawaban.
Menariknya, Ring of Gyges yang ditulis Plato sekitar abad ke-4 SM, masih sangat relevan untuk memahami korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan pada zaman modern.
Karena itu, masalah korupsi tidak hanya dapat dilihat sebagai persoalan “orang jahat”, tetapi juga sebagai persoalan sistem yang memungkinkan seseorang melakukan kejahatan tanpa takut terlihat, diperiksa, atau dihukum.










