Meneladani Buya Karim. Ulama, Patriot dan Pejuang Peradaban Pelalawan.

PELALAWAN, Verostv.com — Sejarah sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh mereka yang memegang kekuasaan, tetapi juga oleh orang-orang yang mengabdikan hidupnya untuk kepentingan masyarakat. Salah satu sosok yang patut dikenang dalam perjalanan Kabupaten Pelalawan adalah almarhum H. Abdul Karim atau yang akrab disapa Buya Karim.

Buya Karim bukan sekadar ulama dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) di Riau. Perjalanan hidupnya juga diwarnai semangat patriotisme sebagai pejuang Dwikora pada era 1960-an, pemain generasi awal PSPS Pekanbaru yang membawa nama Riau di PON I, serta tokoh yang turut berperan dalam perjuangan pemekaran Kabupaten Pelalawan.

Salah satu keistimewaan Buya Karim adalah prinsip hidupnya yang tidak menjadikan jabatan sebagai tujuan pengabdian. Ketika pernah ditawari menjadi anggota DPRD Kabupaten Kampar, ia memilih menolak dan lebih mengutamakan kegiatan dakwah serta pendidikan umat. Sikap serupa ditunjukkannya ketika sejumlah pihak mengajaknya masuk dalam kepengurusan partai politik. Ia memilih tetap berdiri sebagai ulama yang mengayomi seluruh golongan.

Pengabdian Buya Karim tidak berhenti di mimbar dakwah. Pada 1993, ia mendirikan Pondok Pesantren Hidayatul Ma’arifiyah di Pangkalan Kerinci. Lembaga pendidikan ini kemudian berkembang melalui jenjang MTs, MA, dan SMK, serta melahirkan generasi pendidik, pendakwah, dan berbagai profesi lainnya.

Kepeduliannya terhadap pendidikan juga diwujudkan melalui wakaf tanah untuk pembangunan SMAN 1 Pangkalan Kerinci. Bersama istrinya, Hajjah Maryam, dan keluarga besar, ia juga mewakafkan tanah untuk pemakaman umum. Bahkan, tanah miliknya di kawasan Lintas Timur Kilometer 55 hingga Jalan Koridor RAPP turut direlakan untuk kepentingan pembangunan jalan dan akses transportasi masyarakat.

Bagi Buya Karim, harta bukan semata-mata untuk dimiliki, tetapi juga harus memberikan manfaat bagi sesama. Prinsip inilah yang menjadikan wakaf sebagai salah satu warisan terpenting dalam perjalanan hidupnya. Tidak hanya meninggalkan aset, ia meninggalkan manfaat yang dapat dirasakan lintas generasi.

Dalam kehidupan keagamaan, Buya Karim dikenal sebagai tokoh penting NU yang konsisten mengembangkan paham Ahlussunnah wal Jamaah, menjaga tradisi pesantren, dan merawat persatuan umat. Ia juga dikenal memiliki kedekatan intelektual dengan budayawan dan tokoh Riau, almarhum Tabrani Rab. Hubungan ulama dan pemerintah pun dijalinnya secara harmonis dengan sejumlah pemimpin Riau dan Pelalawan.

Peran Buya Karim dalam perjuangan pemekaran Kabupaten Pelalawan juga menjadi bagian penting dari catatan sejarah. Ketika Pelalawan resmi berdiri pada 12 Oktober 1999, ia disebut turut memberikan dukungan pemikiran, tenaga, dan pengaruh moral untuk menyatukan berbagai elemen masyarakat dalam memperjuangkan kemandirian daerah.

Kini, memasuki usia ke-27 tahun Kabupaten Pelalawan, keteladanan Buya Karim patut menjadi bahan refleksi. Pembangunan daerah tidak cukup hanya diukur dari infrastruktur, investasi, dan pertumbuhan ekonomi. Lebih dari itu, pembangunan membutuhkan integritas pemimpin, kepedulian sosial, pendidikan berkualitas, dan semangat pengabdian kepada masyarakat.

Buya Karim mengajarkan bahwa kebesaran seseorang bukan diukur dari jabatan yang pernah diduduki atau kekayaan yang berhasil dikumpulkan, melainkan dari manfaat yang ditinggalkan bagi orang banyak.

Ia telah tiada, tetapi pesantren yang didirikannya terus mendidik generasi, tanah yang diwakafkannya terus memberikan manfaat, dan nilai perjuangannya tetap relevan untuk diwariskan.

Selamat Hari Jadi ke-27 Kabupaten Pelalawan. Semoga semangat pengabdian Buya Karim menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk membangun Pelalawan yang maju, bermartabat, adil, dan sejahtera.

Penulis: H. El Yusril, S.E., M.M.
Mahasiswa Program Doktor Sains Manajemen Konsentrasi Kebijakan Publik dan Sekretaris Dewan Syuro PKB Riau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *