Secarik Kertas Buat Menteri Keuangan Purbaya, KUR Dimata Perbankan antara Program dan Ambisi

oleh : Averos Zahidi.

Verostv.com, Pekanbaru – Kredit Usaha Rakyat ( KUR), sejak awal digadang-gadang sebagai solusi bagi pelaku usaha kecil, bunganya rendah, syaratnya ringan dan prosesnya mudah- kata para pejabat – mudah diakses. Namun di Pekanbaru, kenyataan dilapangan justru memperlihatkan wajah lain. dingin,  berbelit dan melelahkan jiwa dan raga.

Ini dialami sendiri oleh penulis. Proses yang katanya sederhana berubah menjadi jalan  panjang gelap yang berbelit tanpa kejelasan. Persyaratan diminta, seolah tak pernah selesai. Terbentur oleh peraturan perbankan, penjelasan berbeda disetiap meja dan jaminan sertifikat yang harus ada. Bagi pelaku usaha kecil ini bukan prosedur, ini siksaan administratif yang maknanya jangan pinjam jika anda tidak bisa memenuhi standar kami.

Seakan tak ada arti tambahan uang Rp. 200 triliun bagi rakyat melalui Himbara, bagus diatas kertas dan lemah implementasi, atau apakah dana besar itu hanya untuk memperkuat neraca bank.

Negara boleh berkata UMKM adalah tulang punggung ekonomi. Tapi bagaimana punggung ini bisa menopang, jika terus dibebani? KUR yang harusnya menjadi penyelamat, berubah menjadi tembok tinggi yang hanya bisa dilewati oleh mereka yang kuat relasi dan koneksi, bukan tumbuh kerena mentalitas perjuangan

Keadaan ini semakin pahit melihat realitas, usaha kecil hidup dari perputaran harian. Satu minggu tanpa modal tambahan bisa berarti sepi, satu bulan bisa berarti bangkrut. Namun sisitem seolah menutup mata, seakan waktu rakyat kecil tidak ada artinya.

Ini bukan tangisan pribadi, ini jeritan para pelaku usaha kecil yang kerap tak punya panggung. Jika akses modal terus dipersulit, maka yang sedang kita bunuh pelan-pelan bukan usaha mikro, tetapi harapan untuk bertahan hidup dengan cara yang bermartabat.

Sudah saatnya perbankan dan pemerintah daerah penyalur berhenti berlindung dibalik data serapan dan konfrensi pers. Turun kelapangan. Dengarkan kisah kegagalan yang lahir bukan dari malas, tetapi sistem yang kejam terhadap yang lemah. Perbankan lebih memilih meminjamkan dananyan Rp. 50 milyar ke satu perusahaan daripada memberikan Rp. 50 juta kepada 1000 pengusaha UMKM

Negara yang baik bukan diukur dari seberapa indah programnya ditulis, melainkan seberapa mudah rakyat kecil mengaksesnya tanpa harus kehilangan harga diri.

jika kita bandingkan Raksasa Ekonomi dengan mudah mendapat suntikan dana dari himpunan bank-bank milik negara ( Himbara) sebut saja PT. Agrinas  Pangan Nusantata yang berencana import mobil pick up dari India dengan pinjaman dari bank-bank himbara dengan kontrak  import sekitar Rp. 24,66 triliun.

Dengan nilai kontrak awal aja sudah Rp. 24,66 triliun, dengan kewajiban pertahunnya Rp 40 triliun selama enam tahun.Bayangan berapa triliun uang negara yang di harus disiapkan untuk untuk satu BUMN ini. jawabanya Rp. 264,66 triliun.

Jika sistem tidak berpihak kepada yang kecil dan memanjakan yang besar.Maka yang hancur bukan hanya usaha micro tetapi sistem keadilan ekonomi untuk 280 juta penduduk Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *